Thursday, 7 September 2017

Preparing The Biggest Day

Posted by @nadiarizqi at Thursday, September 07, 2017 0 comments

Assalamualaikum….

Hai guys, masyaAllah blogku ini kalau jadi rumah udah macem rumah hantu kali ya…dijual ga laku, ditempatin ga tega. Sebenernya tulisan tuh banyak. Seriusan. Ada ulasan produk, ada yang curhat, ada yang tulisan opini biasa, tapi gatau kenapa selalu ga pede mau ngepost. Padahal ya yang mampir palingan orang yang kesasar di halaman pencarian Google ke sekian.

Alhamdulillah April kemarin aku nikah. JENG JENG! KYAAAKK -- ekspresi seneng banget maksudnya :p Dan kali ini aku mau bagiin pengalamanku ngurusin pernikahan. Fyi, aku gapake WO. Bahkan untuk susunan acara aja bikin sendiri. Semuanya kami atur dan kami cari sendiri. Posisiku waktu itu lagi kerja di Banjarbaru, Kalimantan Selatan dan calon suami (waktu itu masih calon ya) kerja di Sekayu, Sumatera Selatan. Orang tuaku posisi di Malang, Jawa Timur dan calon mertua posisinya di Palembang, Sumatera Selatan. Nah loh, pada jauh-jauh ya? Hehehe. Kami mutusin buat mengelar resepsi di satu tempat saja yaitu di Malang. Suka duka kami alamin waktu nyiapin segala keperluan.

Monday, 3 July 2017

Sebiji Apel

Posted by @nadiarizqi at Monday, July 03, 2017 0 comments

It was three years ago, when you suddenly said you wanna made me your wife..... Terasa lucu, karena kamu bukan siapa-siapa, dan kita bukan siapa-siapa atas masing-masing. Aku menganggapnya kelakar, meskipun aku tahu kamu tak mungkin sekadar berkelakar. Kau bertanya kapan aku ingin menikah. Kujawab tiga tahun lagi, hahaha. “Berarti aku punya waktu tiga tahun untuk mempersiapkan diri.” Tunggu tiga tahun lagi, katamu. Kuterima itu sebagai tantangan, bukan janji. Karena aku tak menaruh harap apapun atas pernyataanmu. Agar jika tiga tahun kemudian kau tak datang, aku tak perlu berduka.

Sunday, 28 August 2016

Roti Spesial untuk Toko Roti

Posted by @nadiarizqi at Sunday, August 28, 2016 0 comments

Pertama kali menginjakkan kaki disini, aku menghirup aroma roti hangat. Aromanya menyapaku ramah, seakan-akan mengucapkan selamat datang padaku, selamat datang di batu loncatan masa depan. Aroma itu berasal dari etalase yang ada disana. Roti-roti cantik yang berjejer di etalase itu sungguh menggodaku. Setiap orang disini dipersilakan untuk mengambilnya tanpa harus membayar. Beberapa dari mereka senang memakan roti itu. Beberapa yang lain malah memuntahkannya, pahit katanya. Beberapa yang lain memakannya tanpa ekspresi. Hambar. Sungguh, aku sangat heran. Bagaimana mungkin roti dengan tampilan yang sama itu bisa membuat orang-orang merasakan hal yang teramat berbeda? Maka, berbekal rasa penasaran yang menggelora, kucari di setiap sudut tempat ini, pabrik pembuat roti. Namun aku tidak menemukannya. Dimanapun tak kulihat papan bertuliskan "Pabrik Roti", "Toko Roti", "Terima Pesanan Roti", atau apapun itu.

Sunday, 13 March 2016

Delapan Nol Dua

Posted by @nadiarizqi at Sunday, March 13, 2016 0 comments

source: wikimedia.org

Pukul tujuh empat lima.

Aku berdiri di depan cermin, menggenggam selembar kain. Dua lembar dengan warna berbeda terlipat manis diatas tempat tidur. Aku memandangi wajahku, setiap sudut. Mengutuki cermin yang hampir selalu berhasil menahanku barang sejenak. Merayuku untuk tak berpaling. Tunggulah sebentar, rambutmu tak rapi, katanya. Sebentar, sebentar, mukamu lusuh, kau lupa pakai bedak, sautnya. Tunggu dulu, kau yakin tak mau pakai gincu?, tanyanya. Mataku mengerjap-ngerjap mencoba mengusir sisa kantuk habis begadang semalam. Aku seharusnya sudah berangkat. Namun kaki ini tetap bergeming.
 

Ketik Hapus Ketik Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review