Saturday, 7 January 2012

Bukan Tulisan Jika Tanpa Resiko

Posted by @nadiarizqi at Saturday, January 07, 2012
Bagi setiap orang, tulisan dapat mengandung berbagai makna. Pun bagi saya. Setiap tulisan yang saya buat, baik di buku diary, notes, sobekan kertas, jejaring sosial, maupun di blog pribadi. Lebih sering di jejaring sosial tentunya. Tulisan-tulisan itu ada yang hanya sepenggal kata puitis, ungkapan basa-basi, atau yang benar-benar langsung ke inti cerita. Lebih banyak langsung ke inti juga sih. Nah, entah kenapa ketika saya selesai menulis, apapun itu, dimanapun itu, kelegaan muncul seketika. Mungkin dapat dimisalkan dengan pilek. Ketika selesai buang ingus, rasanya lega banget. Gatau juga nih kenapa saya memakai pilek sebagai permisalan. Dan entah ini kebiasaan atau apa, setelah saya menuangkan apa yang ada di kepala saya ke dalam sebuah tulisan, saya tidak akan lagi membacanya kembali.

Bahkan seringkali saya lupa dengan apa yang saya tulis. Karena ketika saya selesai menulis, semua kekesalan, emosi, kemarahan dan bahkan kesenangan yang saya rasakan itu hilang. Seperti ketika curhat kepada teman atau sahabat. Namun, saya lebih suka curhat dengan tulisan. Saya sempat punya buku diari, 2 kali. Dua-duanya saya buang tanpa saya baca kembali. Pun dengan tulisan-tulisan di blog maupun jejaring sosial yang saya punya.

Saya sedikit cerita aja nih ya. Bulan lalu ada seseorang yang datang kepada saya dan memberikan protes atas tulisan saya. Saya kaget sekali waktu itu. "Memang saya nulis apa?" "Tulisan saya mengandung SARA-kah?" , dan pemikiran-pemikiran lain memenuhi otak saya. Ternyata gara-gara tulisan saya yang notabene berisi keluhan saya atas sikap seseorang. Yang jelas saya gak pernah me-mention siapapun. Saya sih biasa saja, karena ini bukan pertama kali ada yang protes atas tulisan saya. Akan tetapi, karena hal itu, saya jadi ingat kejadian pertama kali ada yang protes dengan tulisan saya. Hal itu memaksa saya membaca kembali tulisan saya yang ternyata belum saya hapus karena komentarnya banyak. Saya bertanya pada teman saya, "Baca deh tulisan saya, menurutmu??". Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala. Lalu menjawab, "Pantes nad, lha wong tulisanmu kayak gitu...".

Dari sini saya simpulkan bahwa pemilihan kata dalam sebuah tulisan itu penting. Apalagi jika tulisan tersebut ditujukan untuk umum. Saya gak pernah menyalahkan tulisan saya. Saya gak pernah menyesal telah menulis, sungguh. Semua orang berhak untuk menulis, menumpahkan apa yang ada di pikirannya, segala kekesalan yang ada dalam dirinya. Gak semua orang bisa mengeluarkan kekesalan mereka lewat omongan. Termasuk saya. Kalau orang menyelesaikan masalah lewat mulut, saya lewat tulisan. Ketika orang membicarakan masalahnya, kemudian menyelesaikannya, maka saya menuliskan, dan kemudian selesai. Dan benar-benar selesai. Disini, saya hanya salah tempat. Mungkin kalau saya menulis di buku diari, kejadian ini gak akan terulang, atau bahkan gak mungkin terjadi. Saya hidup untuk belajar. Belajar, bukan tanpa kesalahan, tetapi berawal dari kesalahan.

1 comments:

tiya said...

bener banget nad :)

kadang kalau cerita ke orang, masalah bisa tambah ribet (+tambah galau). Kalau nulis walaupun masalah nggak selesai tapi seenggaknya bisa lega seolah-olah udah selesai..

Post a Comment

Jangan sungkan untuk meninggalkan jejak :D

 

Ketik Hapus Ketik Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review