Monday, 22 April 2013

Bagaimana Api Bisa Padam Tanpa Air

Posted by @nadiarizqi at Monday, April 22, 2013

"Demikianlah, jika sebuah masalah disikapi dengan amarah dan emosi, ia hanya akan menjadi lebih besar lagi. Layaknya luka yang disirami air garam atau seperti usaha memadamkan api dengan minyak tanah. Sia-sia. Ya, sebab inilah cara menyelesaikan masalah dengan masalah."

Kalimat tersebut saya kutip dari sebuah artikel yang saya lupa nama penulisnya. Artikel tersebut dimuat di majalah Media Keuangan terbitan Sekjen Kemenkeu. Well, kalimat tersebut mengingatkan saya pada masalah yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Hm, sebenarnya sebelumnya juga beberapa kali mengalami masalah yang serupa. Kesemuanya memiliki satu persamaan. Mungkin saya ceritakan dulu alurnya. Jadi, ada teman yang komplain ke saya, tentang apa yang sudah saya lakukan terhadap dia.

Kasus 1.
Orang pertama ini tiba2 mengirimi saya sms yang isinya penjelasan kalo dia begini begitu, cerita ini itu. Awalnya saya tidak menanggapi, tetapi lama-lama isi smsnya memojokkan saya. Pada akhirnya inti dari sms tersebut yang saya tangkap adalah orang pertama ini menuduh saya mengatakan sesuatu hal yang buruk tentang dia. Tuduhannya memang tidak salah, tetapi dari semua penjelasan yang dia paparkan hanya 30% yang benar. Selebihnya dia hanya melebih-lebihkan. Ini kesimpulan saya setelah dipikirkan dengan kepala dingin. Dan apa kesalahan saya? Waktu itu saya terlalu emosi menanggapi tuduhan-tuduhannya. Memang, sms balasan saya tidak mengumpat atau berkata kotor, tetapi kuantitas sms yang sampai 2-3 sms karakter menunjukkan bahwa saya tidak berpikir. Tentu saja menanggapi sms saya, orang tersebut semakin menjadi-jadi. Semakin merapalkan tuduhannya dengan lancar. Bahkan pembicaraan kami semakin keluar jalur. Pada akhirnya saya menghentikan sms saya. Entah bagaimana orang tersebut mengambil kesimpulan Apakah dia semakin memandang buruk saya atau dia mengerti pembelaan saya.

Kasus 2
Orang kedua ini tidak memberitahukan langsung tentang ketidaksukaannya. Dia menuliskannya lewat jejaring sosial. Tentu saja saya tahu. Dari sini, saya yang merasa tersindir langsung komplain dengan emosi. Tentu saja tanggapan dari orang tersebut juga emosi. Pada kasus ini apa kesalahan saya? Ya, saya menanggapi hal tersebut dengan emosi. Saya terlalu sibuk melakukan pembelaan sehingga saya tidak mempedulikan dari sudut pandang orang tersebut. Namun, bukan berarti pembelaan saya salah loh :)
Maka, dari sini saya bisa belajar. Api tidak bisa dipadamkan dengan api dan api bisa diciptakan dari dua batu yang digesekkan. Jika kamu seorang yang emosionalnya tinggi, jika ada masalah menimpamu, berusahalah untuk tidak memikirkannya selama beberapa jam. Coba minum air putih, atau bisa juga dengan tidur. Untuk umat muslim bisa dengan ambil air wudhu. Saya ini juga emosional, apalagi menyangkut sesuatu yang tidak sesuai dengan diri saya. Tipe yang "langsung samber". Namun sekarang saya sudah mulai menghilangkan "langsung samber" tersebut. Sulit? Ya, sangat sulit. Apa salahnya mencoba? :)


0 comments:

Post a Comment

Jangan sungkan untuk meninggalkan jejak :D

 

Ketik Hapus Ketik Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review