Monday, 17 February 2014

Indonesia Mengajar: Perspektif Publik dan Kekhawatiran

Posted by @nadiarizqi at Monday, February 17, 2014

“We are addicted to our thoughts. We cannot change anything if we cannot change our thinking.”
― Santosh Kalwar

Kurang lebih dua bulan sudah, hari-hari saya lewati dengan berkutat di sebuah rumah dengan logo tunas berwarna oranye dan hijau pada tembok pagarnya. Rumah yang telah mengajari saya berbagai hal abstrak, yang tidak bisa diukur dengan angka. Jika saya menuliskan capaian terukur apa saja yang saya dapat dari rumah tersebut, mungkin saya tidak akan menuliskan apa-apa. Bersama empat orang lainnya, saya pun menikmati suguhan-suguhan abstrak di rumah tersebut. Menikmati, mencerna, menaruhnya di suatu tempat untuk nantinya dikembangbiakkan. 

Logo tunas oranye-hijau tersebut khas. Meskipun ada saja teman saya yang masih bertanya, tetapi saya yakin orang-orang sudah banyak yang tahu. Tunas tersebut adalah logo Indonesia Mengajar. Sebuah gerakan pendidikan yang berusaha membangun pemahaman bahwa pendidikan itu penting. Saya mengetahui gerakan ini ketika dosen memutar video stop motion yang berisi deskripsi gerakan Indonesia Mengajar. Saya seketika tertarik. Kali ini tidak hanya karena stop motion-nya, tetapi juga isinya. Dari video tersebut, saya menyimpulkan bahwa inti dari gerakan ini adalah para pemuda yang mempunyai kualifikasi tinggi akan ditempatkan ke daerah-daerah di ujung republik untuk mengajar di Sekolah Dasar selama setahun. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Para pemuda-pemuda terpilih yang disebut Pengajar Muda (PM) ini tidak hanya sekadar mengajar selama setahun kemudian selesai.

Para PM juga harus menanamkan paradigma kepada masyarakat di daerah tersebut bahwa pendidikan itu penting. Bagaimana mengajak guru-guru di sekolah agar tidak lagi terlambat masuk kelas. Bagaimana mengajak mereka agar mengajar dengan metode yang kreatif, dengan tidak memakai kekerasan. Bagaimana agar orang tua senantiasa mengingatkan anaknya untuk berangkat sekolah. Bagaimana agar daerah tersebut dapat mandiri setelah PM sudah tidak lagi bertugas disana. Mungkin itu semua akan mudah sekali dilakukan di kota-kota besar dimana tingkat kesadaran masyarakat akan pendidikan sudah tinggi.

Tugas yang sangat berat tersebut membutuhkan pemuda-pemuda dengan kualifikasi yang tinggi. Tak heran jika seleksinya sangat ketat. Semua aspek dilihat. Semua sisi dilihat. Pemuda dengan pengalaman mengajar bertahun-tahun bisa jadi tidak lolos. Atau, pemuda yang tidak pernah sekalipun mengajar bisa jadi malah lolos. Hal inilah yang masih ada di pikiran publik saat ini. Tidak semua hal-hal terukur dapat membuatmu masuk di kriteria berkualitas. Bisa jadi hal-hal abstrak malah membuatmu berkualitas. Begitu juga dengan gerakan ini. Jika di suatu perusahaan mempunyai ukuran kinerja dalam satuan angka, maka gerakan ini mempunyai ukuran kinerja dalam satuan perilaku yang mana tidak bisa dihitung menggunakan angka.



Harapannya adalah agar di suatu daerah tingkat pendidikannya efektif dengan adanya dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah daerah. Lalu bagaimana menghitungnya? Apakah jika di suatu daerah 75% siswanya berprestasi, lantas tingkat pendidikannya efektif? Belum tentu. Apakah jika di suatu daerah, seluruh gurunya berpendidikan tinggi, lantas tingkat pendidikannya maju? Belum tentu. Apakah jika di suatu daerah semua orang tua menyekolahkan anak-anaknya, lantas daerah tersebut tingkat kesadaran pendidikannya tinggi? Belum tentu juga.  Bisa jadi siswa-siswa berprestasi tersebut hanya theory-minded. Bisa saja guru-guru berpendidikan tinggi tersebut juga theory-minded. Bisa saja orang tua-orang tua tersebut  menyekolahkan anaknya hanya karena formalitas.

Selain pandangan yang hanya sekadar mengajar dan PM yang hanya mempunyai kualifikasi yang terukur, ada beberapa orang yang menilai bahwa gerakan ini terlalu membanggakan diri. Menurut saya ini pandangan yang salah. Malah menurut saya gerakan ini patut membanggakan diri. Banyak masyarakat di luar sana yang turut bangga dan membangga-banggakannya.

Namun ketika masyarakat bangga akan suksesnya gerakan ini, kebanggaaan tersebut seakan menjadi candu. Candu akan datangnya PM yang akan selalu mendampingi mereka selamanya. Juga candu akan event-event yang diadakan gerakan ini. Kekhawatiran tersebut mulai tampak ketika para pemuda berlomba-lomba untuk menjadi PM dan akan merasa impiannya selesai ketika tidak terpilih. Padahal maksud dari gerakan ini adalah sebagai contoh. Semua orang bisa melakukan apa saja untuk membantu negeri ini tanpa harus melalui gerakan ini. Semua orang bisa mempratekkan ide-ide yang muncul dari diri kepala mereka sendiri. Gerakan ini hanyalah salah satu wujud ide diantara ratusan ide-ide yang harusnya tercipta. Gerakan ini, hanyalah salah satu jalan untuk mengabdi kepada negeri. Karena masalah di negeri ini bukan hanya milik suatu kelompok, tetapi milik kita bersama.


Saat  ini, sejumlah 291 Pengajar Muda telah purna tugas. Jejak-jejak yang mereka tinggalkan di ujung-ujung republik kemudian diteruskan oleh 123 PM yang saat ini sedang bertugas. Maka ketika jejak-jejak itu ditelusuri, bentuknya berbeda-beda. Namun apalah arti bentuk jika jejak itu kemudian tidak terhapus dan menjadi petunjuk jalan bagi terbukanya pemikiran-pemikiran yang inovatif. Rumah ini mengajarkan saya bahwa begitu mudahnya kita membuat jejak, tetapi begitu sulit untuk membuatnya berbekas.

2 comments:

Febri sadina said...

Wahh...Nadia :)
Aku suka closing-nya, "...begitu mudahnya kita membuat jejak, tetapi begitu sulit untuk membuatnya berbekas." :D

Nadiaaa said...

Waah mbak Dinaaa, kirain cuma mampir, ternyata komen juga :')
Dan aku baru ngecek, hihihi

Post a Comment

Jangan sungkan untuk meninggalkan jejak :D

 

Ketik Hapus Ketik Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review