Sunday, 6 April 2014

Saya Belum Siap Berjilbab

Posted by @nadiarizqi at Sunday, April 06, 2014
Ilustrasi diambil dari FP Hijabographic

“Hijab memang tidak mengantarkan kita ke surga, karena akhlak dan amal perbuatan lah yang membawa kita ke surga. Tapi dengan berhijab, kita bisa menjaga akhlak dan amal agar selalu lurus.”
—Ariestia Ramadhany

Mungkin, Anda sering mendapat jawaban “Aduh, aku belum siap” atau “Aduh, kelakuanku aja masih bandel begini”, ketika memberi saran kepada teman untuk segera berjilbab. Pun dengan saya. Bahkan jawaban itu beberapa kali keluar dari mulut saya ketika mendapat saran yang sama, dulu. Namun berjilbab bukanlah tentang siap-tidak-siap atau perilaku yang belum sempurna. Berjilbab adalah menyoal tentang kewajiban agama. Mari kita bandingkan dengan kewajiban lain seperti sholat. Apakah harus menunggu siap, hingga kita mau melaksanakan sholat? Menunggu untuk siap dalam hal apa? Mati? Ups, entah kenapa ini menjadi menyeramkan ya. 

Saya sendiri baru 1 tahun berjilbab. Awal mula saya memutuskan untuk berjilbab sebenarnya.... hmm.... saya sendiri tidak tahu persisnya. Tapi mungkin saya bisa ceritakan kronologisnya. 
Di kampus, setiap angkatan mahasiswa memiliki buku kenangan. Di dalamnya berisi foto dan data diri masing-masing mahasiswa. Maka di pikiran saya tiba-tiba tercetus ide bahwa saya ingin foto dengan memakai jilbab. Awalnya saya pikir, konsep foto buku kenangan untuk kelas saya adalah outdoor, memakai baju bebas, sehingga saya bisa dengan sengaja memakai jilbab hanya untuk keperluan foto tersebut. Namun sepertinya Allah sayang kepada saya. Kelas saya sepakat untuk mengambil foto saat pulang kuliah dan saat sedang kuliah di kelas.

Maka ada dua opsi, saya kuliah memakai jilbab (dalam artian mulai berangkat sampai pulang) atau saya memakai kemeja dan rok panjang dengan membawa jilbab yang nantinya dipakai saat sesi foto. Saya pun memilih opsi kedua. Dan ternyata Allah sungguh sangat sayang kepada saya. Sesi foto tidak tentu, bisa kapan saja.

Lalu bagaimana? Saya harus memakai kemeja dan rok panjang setiap hari serta membawa jilbab? Ribet, tetapi masih bisa dilakukan. Nah, bagaimana kalau lupa membawa? Saya kan berangkat selalu terburu-buru dan mepet jam masuk.... Lalu pada suatu hari, saya mendapat pesan singkat bahwa besok adalah sesi foto untuk saya. Suatu kebetulan. Saya bisa melakukan opsi kedua. Malamnya saya sudah siapkan semuanya. 

Esok paginya, setelah saya berpakaian, saya menghadap cermin (memang sudah kebiasaan sebelum berangkat kuliah). Saya diam sejenak. Di sebelah saya ada jilbab ungu yang masih hangat, baru semenit yang lalu disetrika. Alih-alih dilipat dan dimasukkan tas, jilbab tersebut saya lipat menjadi segitiga. Lalu saya pegang sejenak (dipakai-lepas-dipakai lagi-lepas lagi). Jam sudah menunjukkan pukul delapan, yang tandanya saya harus segera pergi. Namun saya masih ragu untuk berangkat.

Kemudian saya berkata dalam hati “Ah, kalau enggak nekat make, gue enggak make-make nih”. Dan akhirnya saya pun memakainya. Begitulah ceritanya. Hingga sekarang, alhamdulillah kain tersebut masih melekat pada kepala saya saat keluar rumah.

Yang menguntungkan lagi adalah kultur di kampus saya. Dimana jika seseorang berjilbab, maka keluar kos juga berjilbab. Meskipun hanya ke toko kelontong sebelah. Maka saya yang pada saat itu masih kuliah juga mengikuti kultur tersebut sehingga sekarang menjadi terbiasa.

Ketika saya membentengi diri saya dengan alasan “tidak siap”, bukan berarti saya tidak mau. Ketidaksiapan itu bukan semata-mata alibi. Kemauan itu ada, tetapi masih ragu sehingga keinginan tersebut menjadi tertunda. Ragu apa? Yaitu ragu jika nanti tidak bisa istiqomah. Ketika saya pada suatu hari memutuskan untuk memakai jilbab, maka besoknya harus tetap pakai, kan? Ketika saya pada suatu hari memutuskan untuk memakai jilbab, maka kemana-mana juga harus pakai jilbab, kan? Seperti teman saya yang membuang sampah di luar pagar kos saja dia memakai jilbab. Maka, saya —pada pagi pertama memakai jilbab— bertanya pada diri saya sendiri, ‘Sampai kapan mau ragu? Kenapa enggak dicoba sekarang?’

Menyoal alasan yang kedua, yaitu tentang kelakuan yang masih buruk, kalau dituliskan di rumus mungkin jadi seperti ini:

Kelakuan buruk + tidak berjilbab = 2 dosa.
Kelakuan buruk + berjilbab = 1 dosa.

Tapi itu hanya pengandaian saja, karena jika Anda sudah berjilbab, maka bukan berarti Anda boleh berkelakuan buruk. Seiring dengan bertahtanya mahkota jilbab di atas kepala Anda, perangai-perangai buruk itu pasti akan luntur dengan sendirinya.

Seperti di dalam hati saya yang sering kali mengingatkan “Ih gue kan udah berjilbab, masa gue enggak sholat sih” atau “Ih gue kan udah berjilbab, masa berkata-kata kasar sih”. Seperti kutipan Ariestia diatas bahwa dengan berjilbab akan lebih terjaga akhlak dan amal perbuatan kita.

Bisa jadi kenekatan yang saya lakukan mengalahkan benteng-benteng ketidaksiapan dan kekhawatiran yang telah saya susun. Namun, kenekatan itu tidak saya sesali sama sekali. Saya sekarang lebih nyaman berjilbab. Orang-orang di jalan tidak berani menggoda. Mereka tidak lagi nyiulin, tetapi malah mengucapkan salam. Memang sih, itu menggoda, tapi masih lebih baik kan daripada disiulin?

Nah, sekarang bagaimana dengan Anda? Apakah Anda nekat melompati, atau bahkan menembus benteng-benteng alasan dan keraguan yang telah Anda bangun? Lompatilah, tembuslah dan hancurkanlah benteng-benteng itu sekuat tenaga seperti saya menghancurkannya pagi itu.

“Perlu kita sampaikan bahwa hijab bukanlah pernyataan ‘Aku sudah baik’ atau ‘Aku tiada dosa’. Hijab sederhananya hanya pernyataan ‘Aku ingin taat’
—Yuk, Berhijab! Halaman 132

1 comments:

PRofijo said...

Tetep istiqomah

Post a Comment

Jangan sungkan untuk meninggalkan jejak :D

 

Ketik Hapus Ketik Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review