Monday, 22 December 2014

Ketika Aku Gagal Semeja Dengannya

Posted by @nadiarizqi at Monday, December 22, 2014
Image source: www.gardenandgun.com

Ingat waktu kita pertama kenal dulu? Waktu itu kelas 2 SD.Aku sebenarnya tak mau duduk denganmu karena sudah ada yang mengajakku semeja. Tetapi terlambat, tetiba ada bocah kecil dengan wajah angkuh merebut kursiku. Hmm, baiklah aku mengalah. Aku mencari tempat kosong dan tak jauh dari situ, kau tersenyum sembari menawarkan kursi. Dengan sedikit jengkel ―bukan kepadamu tentunya― aku akhirnya duduk di bangku paling depan kolom kedua dari kiri.

Sejak saat itu kita selalu pulang sekolah bersama karena arah rumah kita sama. Sepulang sekolah kadang-kadang aku mampir ke rumahmu barang sejam-dua jam. Bersama dia ―yang gagal mengajakku duduk semeja― kita menyetel video lagu-lagu Bollywood sambil mengikuti gerakan tariannya. Bergoyang pinggul dan kepala hingga berpeluh. Kadang memanen pohon belimbing yang ada di halaman rumahmu. Berlomba siapa yang bisa memanjat paling tinggi. Saling menantang siapa yang bisa mengunduh belimbing masak di sudut sana. Pernah suatu kali kita dimarahi ibumu. Ketika panjang bayangan mulai melebihi benda aslinya, aku dan dia belum kunjung pulang. Ibumu menemukan kita sedang bergumul di dapur dengan nasi dan telur berserakan. Sontak aku dan dia diusir seketika. Aku dan dia pun bergegas membereskan ransel dan enyah.

Ingat waktu kita diam-diam mengambil sepeda masing-masing dan berkelana jauh. Kemudian berpose seolah-olah model di lapangan bundar kecil yang di tengahnya berdiri pohon mendira tua. Kau tahu? Lapangan bundar itu sekarang sudah dipagar. Pohon mendiranya terlindungi, tetapi kesepian. Aku yakin, pohon itu lebih memilih ditendang-tendang daripada cuma jadi tontonan.

Ingat waktu kita tak sengaja menemukan jalan baru di area kuburan? Jalan setapak dengan gerombolan aur di sebelah kirinya dan sawah di sebelah kanan? Kita sering duduk di kursi dekat pohon aur, makan penganan kecil sambil memperhatikan liuk oryza sativa yang ditiup angin. Ah, aku juga ingat pertama kali kita duduk disitu, kita diusir seorang anak kecil. Anak kecil itu bahkan sampai melempar apel yang sedang dimakannya. Tapi apalah daya anak kecil melawan 3 orang (yang juga anak kecil?) murid SD.

Ingat waktu kita menyaksikan kakak kelas yang sedang berkelahi? Kita bertiga sama-sama ngeri kemudian lari. Lari dan berbisik-bisik ketika lewat di depan rumah si kakak kelas. Jangan-jangan si kakak kelas sudah babak belur. Atau jangan-jangan, si kakak kelas pulang dengan dengan senyum mengembang.

Ingat waktu kita termakan omongan kakak kelas tentang kuburan berlubang? Jika lubang itu diintip kamu akan buta selamanya. Maka, dengan diselimuti rasa penasaran kita datangi kuburan itu. Ternyata lubang itu hanya cuilan di salah satu sisi nisannya.

Seketika kakiku menginjakkan kaki di rumahmu setelah 9 tahun. Kuhirup dalam-dalam aroma sekitar. Aroma yang seharusnya tak asing, tapi menjadi asing karena tambalan di sana sini. Tubuhku merindu. Rindu akan masa kanak-kanak yang menyenangkan. Rindu akan kekonyolan-kekonyolan yang kami ciptakan dan kami tertawakan sendiri. Rindu suara decit pagar hitam rumahmu saat digeser. Rindu saat kurebahkan sepedaku di salah satu sisi dinding rumahmu. Rindu akan ocehan-ocehan kami yang disaksikan pohon belimbing. Ah, pohonnya pun sudah ditebang. Mungkin terlalu rindu digoda bocah-bocah bandel. Atau mungkin terlalu lelah menunggu, karena bocah-bocah yang bandel itu tak pernah kembali. Bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal.

Maka hari ini, aku memandang wajahmu sumringah di singgasana. Didampingi seorang lelaki yang tak kukenali. Aku datang dengannya. Berdua kami terdiam sejenak dan melambaikan tangan padamu, tanda bahwa kami hadir. Aku pun bergegas maju, memelukmu erat, tak percaya perempuan yang bergincu di depanku ini adalah sahabat masa kecilku yang lugu.

Aku dan dia lalu duduk menikmati hidangan. Tertawa melihat tingkahmu yang digoda lelakimu. Berbisik-bisik tentang pohon belimbing, tentang kuburan, tentang pohon mendira dan tentang pohon aur.

Dear Diah Ayu,

I’m feeling so happy about your marriage. When I was there at your wedding party, it was like de javu. I asked myself, repeated it again and again, "Is that really you? Is that bride are you? Is the one who standing beside the unknown man are you?" Then I knew it when I hugged you tightly.

And yes. Yes,it’s you. It’s my cute-curly childhood friend. Oh my god, I’m about to bursting my tears. But no, I shouldn’t cry at wedding party, should I?

From the bottom of my heart, I send you my greatest congratulation. I wish you many years of happiness! May Allah bless your wedding, till death do your path. May your family live happily ever after.

Malang, 21st October 2014



images by Husnantiya

2 comments:

Anonymous said...

ciyeh galau XD

@nadiarizqi said...

Atas ane ketauan banget ga baca artikelnya, wkwk :D

Post a Comment

Jangan sungkan untuk meninggalkan jejak :D

 

Ketik Hapus Ketik Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review