Sunday, 13 March 2016

Delapan Nol Dua

Posted by @nadiarizqi at Sunday, March 13, 2016

source: wikimedia.org

Pukul tujuh empat lima.

Aku berdiri di depan cermin, menggenggam selembar kain. Dua lembar dengan warna berbeda terlipat manis diatas tempat tidur. Aku memandangi wajahku, setiap sudut. Mengutuki cermin yang hampir selalu berhasil menahanku barang sejenak. Merayuku untuk tak berpaling. Tunggulah sebentar, rambutmu tak rapi, katanya. Sebentar, sebentar, mukamu lusuh, kau lupa pakai bedak, sautnya. Tunggu dulu, kau yakin tak mau pakai gincu?, tanyanya. Mataku mengerjap-ngerjap mencoba mengusir sisa kantuk habis begadang semalam. Aku seharusnya sudah berangkat. Namun kaki ini tetap bergeming.

Pukul tujuh lima puluh.

Aku masih di tempat yang sama. Menggenggam barang yang sama. Menyoroti hal yang sama. Memikirkan hal yang sama. Hal yang bertahun-tahun lalu meraba-raba. Meminta diperhatikan. Meminta untuk diacuhkan. Mataku pun masih mengerjap-ngerjap.



Pukul satu tiga lima.

“Nduk, wes disiapno kabeh? Wes gak enek seng ketinggalan?” 

“Sampun dicek, Bu. InsyaAllah lengkap” 

Aku dan ibu bergegas menyetop angkutan hijau muda. Sedangkan ayah mengangkut dua tas besar dan menggendong satu tas ransel, membuntuti menggunakan motor. Aku dan ibu akan melakukan perjalanan besar. Perjalanan yang paling besar diantara perjalanan-perjalanan yang pernah kami lakukan. Perjalanan selama dua puluh tiga jam menuju sebuah kota. Kota yang akan mengubah hidup gadis kecil ibu. Ayah sampai lebih dulu di parkiran bus. Menyusul kami yang tergesa-gesa, takut tertinggal. Ayah memasukkan dua tas besar di bagasi. Entah bagaimana nanti kami mengangkutnya ketika sudah sampai. Kemudian beliau menyerahkan ransel kepadaku. Aku dan ibu mencium punggung tangan ayah.

“Ati-ati yo...”

Angin berhembus cukup kencang. Musim kemarau sudah mulai habis. Daun-daun berguguran disana-sini, membuat kotor jalanan. Bus mulai bergerak perlahan meninggalkan sayup-sayup suara ayah yang tak mau hilang dari telinga. Wajahku kutempelkan di jendela, melihat lambaian tangan ayah. Wajahnya tegas, meskipun aku tahu ada sedikit kekhawatiran di wajahnya. Baru kali ini dua orang yang dicintainya pergi tanpanya. Kemudian sosok ayah menjadi kecil, semakin mengecil dan hilang dari pandangan. Aku terlalu membeku sampai-sampai tak membalas lambaiannya. Riuh suara penumpang lantas menenggelamkanku dalam lamunan.

Pukul sembilan belas nol lima.

“Lho, iki ibu sing nglebokne neng tas?” 

“Iyo, sopo ngerti arepe nganggo” 

“Gak bakal tak nggo, bu. Sumuk” 

“Yo sopo ngerti.....” 

Kami mulai mengeluarkan baju-baju dari tas. Menyusunnya secara rapi di lemari dua pintu yang sepertinya baru dibeli oleh pemilik tempat tinggal ini. Menata seprai dan meja, membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari di toko kelontong terdekat dan berkenalan dengan para tetangga.

 “Hai, masih ada yang mau dibantu?”

Sesosok perempuan bertubuh gemuk menawarkan bantuan. Wajahnya ramah. Sejak aku dan ibu datang, dia membantu mengangkati tas kami. Bercerita panjang lebar tentang rumahnya dan sekolahnya. Cukup menyenangkan dijadikan teman.

“Udah, kok. Trims ya....” 

Suara cericit tikus di atas asbes menahan mataku untuk terkatup. Takut-takut asbesnya jebol dan tikus-tikus itu berjatuhan. Hawa panas pun seakan mengompor-ngomporiku untuk tak tidur. Ibu sudah terlelap. Lelah dengan perjalanan panjang yang kami lakukan. Sudah sejak lima belas menit lalu mataku belum juga terpejam. Satu domba, dua domba, tiga domba, tujuh puluh dua domba....

Pukul enam dua puluh delapan

“Ki, aku jadi berangkat bareng. Tungguin bentar ya!”

“Oke. Oiya, kalau ibumu mau ngadem, ke kamarku aja ya, enggak kukunci”

“Wah, makasih ya!”

Kami berdua segera berangkat untuk menyerahkan berkas-berkas. Di jalan kami menemui puluhan orang-orang seperti kami. Kami berdua mengantri untuk mendapatkan nomor urut yang digunakan untuk mengantri penyerahan berkas. Antrian dua ratus empat belas. Kami kesiangan. Namun melihat ratusan antrian di belakang kami, sepertinya kami cukup beruntung. Teriakan petugas antrian membubarkan obrolan kami. Satu petugas, dua petugas, tiga petugas.... Kami pun akhirnya selesai menyerahkan berkas-berkas. Lalu kami melepas penat. Duduk di bawah pohon cermai. Berharap hembusan angin melewati pori-pori kulit kami yang penuh peluh. Ada dua ibu-ibu yang membawa setumpuk map merah dan bolpoin, bersungut-sungut karena pembagian keuntungan tak memuaskan. Beberapa orang membagi-bagikan brosur ajakan organisasi dengan ramah.

Pukul tujuh lima sembilan

Beep beep beep beep

“Ergh....halo kenapa, Man?”

“Kamu enggak masuk? Jam berapa woy ini?”

“Hah...astaga jam delapan!”

Pukul tujuh lima delapan

Aku masih di tempat yang sama. Menatap cermin. Kain yang tadinya kugenggam, sekarang telah terbalut di kepala. Kuamati sekali lagi pantulan yang ada di cermin. Kuperhatikan baik-baik setiap sudut dan tepiannya. Sekarang pukul delapan nol dua. Aku terlambat.

0 comments:

Post a Comment

Jangan sungkan untuk meninggalkan jejak :D

 

Ketik Hapus Ketik Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review