Sunday, 28 August 2016

Roti Spesial untuk Toko Roti

Posted by @nadiarizqi at Sunday, August 28, 2016

Pertama kali menginjakkan kaki disini, aku menghirup aroma roti hangat. Aromanya menyapaku ramah, seakan-akan mengucapkan selamat datang padaku, selamat datang di batu loncatan masa depan. Aroma itu berasal dari etalase yang ada disana. Roti-roti cantik yang berjejer di etalase itu sungguh menggodaku. Setiap orang disini dipersilakan untuk mengambilnya tanpa harus membayar. Beberapa dari mereka senang memakan roti itu. Beberapa yang lain malah memuntahkannya, pahit katanya. Beberapa yang lain memakannya tanpa ekspresi. Hambar. Sungguh, aku sangat heran. Bagaimana mungkin roti dengan tampilan yang sama itu bisa membuat orang-orang merasakan hal yang teramat berbeda? Maka, berbekal rasa penasaran yang menggelora, kucari di setiap sudut tempat ini, pabrik pembuat roti. Namun aku tidak menemukannya. Dimanapun tak kulihat papan bertuliskan "Pabrik Roti", "Toko Roti", "Terima Pesanan Roti", atau apapun itu.
Sampai pada suatu hari kutemukan kertas lusuh yang menempel di sebuah papan pengumuman.

"Dicari Pegawai untuk Toko Roti"

Maka dengan semangat yang membara aku mendaftarkan diri. Kuikuti setiap liku seleksinya. Aku hanya berbekal semangat dan sedikit ilmu membuat roti yang pernah kudapat sewaktu masih duduk di bangku sekolah. Namun semangat yang kumiliki ini mengalahkan segalanya. Mengalahkan ratusan pendaftar hingga tersisa puluhan. Mengalahkan semua tawaran lowongan pegawai lainnya. Mengalahkan semua rencana-rencana yang telah kususun rapi pada tembok kamar. 

Kemudian sampailah aku pada tahap terakhir. Di hari itu. Ya, tepat di hari itu aku merasakan sakit yang teramat sangat pada tubuhku. Ya Tuhan, mengapa Engkau memberikan rasa sakit ini di hari itu. Mengapa tidak kemarin? Mengapa tidak besok? Tundalah ya Tuhan, tundalah... Namun apa daya, obat yang kupunya pun tidak juga meredakan rasa sakit ini. Lalu dengan semangat yang masih tersisa aku menjelaskan kondisiku kepada salah satu pegawai yang mengurusi perekrutan. Dia pun memaklumi, dengan syarat aku harus ikut seleksi pada malam hari. Maka dengan segenap doa kupanjatkan agar obat yang telah kuminum ini bekerja. Bagaimana mungkin aku menyerah di saat terakhir setelah berbagai lika liku itu kulalui? Ini saat yang kutunggu-tunggu. Aku harus bisa menjadi pegawai toko roti itu. Aku harus tahu bagaimana mereka membuat roti-roti itu. Akhirnya mukjizat itu pun datang. Obat yang kuminum mulai bekerja dan aku pun bersiap mengikuti seleksi terakhir di malam hari. 

Malam pun tiba. Setapak demi setapak kutelusuri jalan menuju tempat berkumpulnya kami, belasan pendaftar tersisa. Ada tiga orang lainnya yang juga absen tadi siang, tetapi aku hanya melihat satu dari tiga orang itu yang datang. Aku duduk sendiri sementara yang lain bercengkrama membicarakan tadi siang. Raut kelelahan terlukis pada wajah mereka. Namun masih ada bekas-bekas semangat yang terpancar terselip di antara kelelahan-kelelahan itu. Rasa penasaranku muncul. Apa yang mereka lakukan tadi siang? Batinku terusik mendengar cuplikan aktivitas tadi siang. Tetapi aku hanya bisa diam dan mendengarkan. Oh, tadi mereka praktek membuat roti. Praktek? Ya. Praktek. Membuat roti dengan tepung, mentega, dan telur sungguhan. Oh tidak dadaku bergemuruh seketika. Aku, ingin, praktek, juga. Aku ingin membuat roti sungguhan. Aku sungguh-sungguh ingin. Sangat ingin. 

Mereka semua berdebar-debar menunggu hasil adonan roti yang mereka buat tadi siang. Aku sendiri ikut berdebar-debar pula menanti apakah aku nanti didiskualifikasi dari seleksi ini ataukah aku akan diberi hukuman. Maka dimulailah perjalanan malam kami. Kami digiring ke suatu tempat dimana kami diminta untuk melingkar. Disinilah roti-roti yang mereka buat ditunjukkan hasilnya. Ada yang setengan matang, ada yang bantat, ada yang overcooked, bahkan ada yang tidak berbentuk roti. Salah satu chef maju. Dia membentak kami, dia membuang roti-roti buatan mereka tadi siang. Dia mempertanyakan apa-apa yang kami lakukan selama rentang waktu sebelum tahap akhir ini. Apakah kami belajar membuat roti sungguhan? Apakah kami mempraktekkan ilmu-ilmu yang mereka berikan? Apakah kami hanya mencatat lalu menyimpan rapi catatan tersebut? Kami hanya diam terpaku, tidak bisa berkata apapun. Kami tahu itu hanyalah tes untuk melatih mental kami. Toko roti ini tidak butuh pegawai yang hanya bekerja sendiri karena toko roti ini tidak dibangun sendirian. Toko roti ini butuh pegawai dengan loyalitas karena toko roti ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Dengan begitu, toko roti ini bisa tetap berdiri. Menciptakan menu-menu baru yang sedap disantap pelanggan.

Setelah puas dengan bentakan-bentakan, chef itu memanggil kami berempat, peserta yang absen tadi siang. Kupikir, kami akan menerima bentakan episode kedua. Ternyata kami dikumpulkan dan menerima hukuman yang kami usulkan sendiri. Setelah itu kami semua dihadapkan oleh 2 sampai 3 chef untuk ditanyai lebih lanjut tentang komitmen kami. Untuk masalah komitmen, aku sudah mantap apapun resikonya. Begitulah, hingga akhirnya aku resmi menjadi pegawai di toko roti itu. Kami, berdua belas, resmi menjadi pegawai toko roti.

Maka pada hari selanjutnya kami ditempatkan di bagian masing-masing sesuai dengan keahlian kami yang paling menonjol. Ada yang bekerja menyediakan bahan-bahan terbaik, mengukur dan mencampur bahan-bahan, mengecek adonan yang telah jadi, menghias roti, dan yang paling penting yaitu membuat resep-resep baru. Resep-resep baru dibuat sesuai dengan minat pelanggan. Toko roti ini setiap minggu membuat roti-roti biasa.  Setiap 6 bulan sekali, toko roti ini akan menyajikan satu roti spesial dan biasanya roti ini menjadi rebutan para pelanggan. Namun roti spesial itu tidak semua dimakan oleh pelanggan yang mengambilnya. Terkadang mereka hanya menaruhnya di tempat hingga basi atau bahkan membuangnya. Maka disini, pekerjaan menghias roti menjadi sangat penting. Namun, diantara kami berduabelas, tak satupun yang pandai menghias roti kala itu sehingga direkrutlah dua pegawai baru yang pandai menghias roti. 

Kami, pegawai baru, dipersilakan untuk memberikan ide resep baru. Ini menyenangkan. Apalagi ketika kami berdebat soal apakah resep ini akan dibuat atau tidak. Reaksi pelanggan sangat penting. Tentu saja yang tidak kalah penting yaitu ketersediaan bahan-bahan untuk membuat roti baru. Ada beberapa bahan yang bagus tetapi sulit didapatkan. Ini menjadi tantangan bagi kami untuk terus mempertahankan semangat membara kami seperti di awal dan ritme kerja dimana setiap minggunya kami harus menghasilkan roti-roti berkualitas. Namun pada akhirnya diri masing-masinglah yang bisa membentuk benteng-benteng pertahanan tersebut. Hingga kami harus kehilangan satu pegawai. Tentu saja kami sedih. Ada teman yang membolos saja kami sedih apalagi jika ada teman yang mengundurkan diri. 

Satu persatu pegawai senior pun mulai meninggalkan kami. Menyongsong kehidupan yang lebih baik daripada harus menjadi pegawai roti dengan dapur yang sempit. Maka tinggallah kami, bertiga belas, dengan segala alat-alat pembuat roti, dengan segala buku-buku berisi resep rahasia, dengan segala potret roti-roti yang telah berhasil kami buat. Inilah saatnya, kami mengelola roti ini dengan tangan-tangan kami sendiri. Tangan-tangan yang telah terasah bersama mereka-mereka yang telah pergi meninggalkan kami. Meninggalkan kami sendiri tanpa pegawai baru. Kami benar-benar hanya bertiga belas. 

Tiga belas. Angka yang dianggap pertanda buruk bagi sebagian orang. Angka keramat. Angka sial. Mungkin itu benar, karena angka tiga belas ini terus bertahan. Tidak bertambah, tidak pula berkurang. Kami bahkan tidak merekrut pegawai baru. Bisa jadi karena kami terlalu percaya diri. Bisa jadi pula karena memang orang-orang di luar sana lebih senang menjadi penikmat roti daripada harus susah payah membuatnya. Maka seketika secara perlahan-lahan, pertanda buruk itupun semakin nyata ketika beberapa di antara kami mulai bosan dan melirik pekerjaan lain. Raga mereka di toko ini, tetapi jiwa mereka di tempat lain. Namun aku, kami, sepenuhnya yakin bahwa bagaimana pun, sejauh apapun mereka pergi, pasti akan kembali lagi ke toko roti ini sebelum waktu itu tiba. Pada akhirnya waktu pun yang memulangkan jiwa mereka kesini, ke toko roti yang dihiasi sejuta kehangatan. 

Hari demi hari berlalu. Sampailah kami di penghujung waktu dimana kami harus menyusul mereka yang dahulu telah meninggalkan toko roti ini. Tetapi, bagaimana nasib toko roti ini? Tanpa pegawai baru, toko roti ini tidak bisa terus dijalankan. Tanpa toko roti, orang-orang diluar sana akan kelaparan. Kami terus memutar otak. Bagaimanapun kami tidak akan membiarkan toko roti ini tutup. Tidak akan pernah. Lalu keajaiban pun datang. Mereka yang dahulu telah meninggalkan toko ini, datang kembali dan bersedia menjalankan toko roti ini. Bertiga, mereka datang bak sepercik air di gurun sahara. Mengubur kekhawatiran kami akan masa depan toko roti. Maka kami beserta mereka bertiga memulai pencarian pegawai baru. Menanam harapan-harapan akan pegawai baru dengan loyalitas tinggi. Meskipun kami harus mengingkari perpisahan, tetapi kami yakin jika memang sudah saatnya, kami akan benar-benar meninggalkan toko roti ini. 

Dan untuk persembahan terakhir, kami ciptakan roti spesial. Roti dengan olesan penuh blueberry diatasnya dan taburan gula halus serta sepotong buah stroberi. Ini roti terakhir kami. Roti dari kami, generasi pembuat roti paling tangguh. Roti yang dibuat sepenuh hati dengan tangan-tangan yang penuh peluh dan rasa jenuh. Tapi roti ini bukan yang terburuk. Ini roti terbaik dari segala yang terbaik. Yang paling kami banggakan. Roti perpisahan.

*)Sebuah dedikasi untuk Media Center, tempat saya mengeksploitasi ilmu dari senior dan rekan. Terima kasih telah menyediakan tempat yang menyenangkan untuk bermain dengan ombak dan petir :")  

source: google.com

0 comments:

Post a Comment

Jangan sungkan untuk meninggalkan jejak :D

 

Ketik Hapus Ketik Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review