Monday, 3 July 2017

Sebiji Apel

Posted by @nadiarizqi at Monday, July 03, 2017

It was three years ago, when you suddenly said you wanna made me your wife..... Terasa lucu, karena kamu bukan siapa-siapa, dan kita bukan siapa-siapa atas masing-masing. Aku menganggapnya kelakar, meskipun aku tahu kamu tak mungkin sekadar berkelakar. Kau bertanya kapan aku ingin menikah. Kujawab tiga tahun lagi, hahaha. “Berarti aku punya waktu tiga tahun untuk mempersiapkan diri.” Tunggu tiga tahun lagi, katamu. Kuterima itu sebagai tantangan, bukan janji. Karena aku tak menaruh harap apapun atas pernyataanmu. Agar jika tiga tahun kemudian kau tak datang, aku tak perlu berduka.

Bulan berganti bulan, berbagai macam lelaki datang menawarkan segenap cinta. Ada yang kusambut, ada pula yang kutepis. Hingga di suatu titik dimana aku memutuskan untuk berhenti memikirkan cinta. Bosan dengan segala keklisean kisah yang ditawarkan. Aku berkontemplasi , memikirkan betapa buruknya diriku di mata-Nya. Betapa buruk, buruk, buruk, buruk, buruk dan buruknya aku. Lalu aku ingat ucapanku dulu. Aku ingin menikah tiga tahun lagi. Meskipun diakhiri dengan hahaha, tapi bukan berarti itu sepenuhnya guyonan. Maka, aku menjadikannya sebuah patokan terendah. Bagaimana jika Allah menakdirkanku menikah tiga tahun lagi? Tinggal berapa waktu lagi menuju tiga tahun itu dari sekarang? Apa yang sudah kuperbaiki dari diriku yang buruk? Tak ada.

Tak ada yang sudah kuperbaiki sekarang. Namun aku masih punya waktu menuju tiga tahun itu. Masih panjang rupanya.

Tahun berganti tahun, rupanya sudah hampir tiga tahun. Ketika hampir, harapan itu tiba-tiba mulai terbesit. Tetiba teringat tantangan darimu terdahulu. Diam-diam aku menunggu. Diam-diam aku menyelipkan namamu dalam doa. Diam-diam aku mengubah tantangan menjadi janji. Berharap kau akan menepati.

Maka ketika masih hampir, kabar darimu datang.

“Aku harus bertemu denganmu, membicarakan apa yang tiga tahun lalu pernah kita bicarakan.”

Aku pun mengiyakan meski otak sedang di ambang keraguan dan ketidakpercayaan. Karena secara logika, aku merasa tak pantas. Kamu yang seperti itu. Bukankah seharusnya wanita-wanita sholehah yang pantas? Bukan aku.

Tapi hatiku membela. Aku juga berhak mendapatkan pendamping yang baik agar bisa menuntunku ke arah yang baik, meningkatkan keimananku pada-Mu. Layaknya wanita sejati yang lebih memberatkan hati, maka kuikuti nuraniku. Bagaimanapun, semua orang berhak memiliki jodoh yang lebih baik dari dirinya.

Maka kami pun bertemu. Kaget? Iya, karena ternyata kamu benar-benar serius. Kamu benar-benar ingin datang ke rumah bertemu bapak dan membicarakan lebih lanjut.

H : “Jadi, kamu mau nggak nikah sama aku?”
N : *diam*
H : “Nggak mau?”
N : “Bukan, bukan nggak mau. Tapi aku lagi nyari kata yang tepat selain kata ‘mau’”
H : “Oke” Kemudian hening sejenak.
N : “Oke, bisa.”
H : “Hah?”
N : “Iya, aku bisa nikah sama kamu.”

Bisa, karena sebenarnya aku masih berpikir apakah aku benar-benar mau dengan lelaki ini. Bisa, karena penolakan yang biasa aku ucapkan pada lelaki adalah ‘maaf, aku nggak bisa’. Bisa, karena ‘mau’ itu belum tentu bisa. Maka dengan jawabanku yang menurutnya agak janggal itu, dia tetap berencana akan datang ke rumah. Rasa? Sebiji apel. Dan ini yang membuat dia ragu, karena selama kita bertemu dan ngobrol, aku expressionless. Tidak menunjukkan tanda-tanda ketertarikan, tidak juga menunjukkan tanda-tanda muak. Tapi justru itu yang membuatnya penasaran padaku, katanya.

Esoknya aku pulang. Entah kenapa ketika di perjalanan ke bandara, mataku berlinang. Dadaku rasanya sesak seperti dipenuhi burung beterbangan. Rasanya seperti melihat ibu pulang selepas mengantarku ke Jakarta untuk kuliah. Karena ini pertama kalinya ada yang mengutarakan keseriusannya dan yakin denganku. Dari situ aku pun yakin bahwa aku benar-benar bisa menikah dengannya. InsyaAllah, semua atas ridho-Mu ya Allah.

Namun sepertinya itu hanya euforia sejenak. Karena setelah pulang, hatiku tak kunjung menunjukkan tanda-tanda perubahan. Kejadian hari itu seperti tidak ada rasanya. Biasa saja, seperti tidak ada pertemuan diantara kami di hari itu. Tetapi tanpa sadar, biji apel telah berubah menjadi tunas.


Lalu pada hari itu, aku menyaksikanmu berdiri di depan pintu rumahku. Aku, tetap dengan wajah expressionless segera memanggil bapak. Kalian asyik berbincang berjam-jam sampai akhirnya kalimat itu keluar dari mulutmu.

“Saya serius sama anak bapak.”
Jeda
“Saya kesini tujuannya mau ngomong kalo saya serius.”
Bapak pun memanggil ibu. 15 menit kemudian memanggilku.
B : “Jadi kamunya gimana?”
N : “Iya. Aku mau kok pak.”

Maka sejak itu, aku bisa dan aku mau.

Aku menatapmu yang tak pernah mengalihkan pandangan dari bapakku. Menatap dalam-dalam. Mengingat-ingat wajahmu saat ini. Wajah yang nantinya bersanding denganku di peterana. Wajah yang nantinya akan menoleh dan mengucapkan salam penutup salat sebagai imamku. Wajah yang nantinya akan kurindukan kehadirannya. Aku harus mengingatnya. Dan tunas pun perlahan semakin tumbuh memunculkan daun-daun muda yang indah.

Istikharah.
“Sudah salat istikharah, Nad?”
“Sudah, kok.”
“Istikharah, Nad. Berkali-kali.”

Hmm. Berkali-kali? Apa perlu? Aku pun menuruti nasehat sahabatku kala itu. Maka kulakukan, berkali-kali hingga keyakinanku semakin kuat.

Khitbah.

Hari dimana dua keluarga bertemu. Berbincang ringan mengenai latar keluarga masing-masing hingga berujung pada tanggal pernikahan. Sekali lagi aku menatapmu yang tak pernah mengalihkan pandangan dari bapakku. Sebegitu malunya menatapku. Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkah konyolmu. Maka, apel-apel kecil mulai muncul pada dahan-dahan pohon menunggu matang.

Namun hatiku masih belum sepenuhnya percaya bahwa semua ini nyata. Bahwa semua ini memang terjadi. Aku akan menikah? Wah memang iya? Benarkah ini semua?

Hingga kita menginjak bandara bersama dan berpisah, saat itulah aku yakin bahwa kita akan menikah. Iya kita. Aku dan kamu. Menunggu apel matang untuk dipetik.

*Tulisan ini kuselesaikan tanggal 1 April, 22 hari lagi kita bertemu untuk mengingkrarkan janji sehidup semati. Janji untuk membangun rumah tangga di dunia dan akhirat. Bismilahirrahmanirrahim. Ya Allah, lancarkanlah…..

0 comments:

Post a Comment

Jangan sungkan untuk meninggalkan jejak :D

 

Ketik Hapus Ketik Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review